Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Kamis, 13 Juni 2013
Sholawat Badar, Salah satu sejarah Sholawat di bumi pertiwi
oleh: Muhammad Noer
Shalawat badar adalah salah satu jenis shalawat yang berisi Rasulullah SAW dan para sahabat nabi Muhammad SAW yang gugur dalam perang Badar, demi memperjuangkan tegakknya Islam di muka bumi.
Sholawat ini diilhamkan oleh seorang Kyai asli Indonesia. Beliau bernama Kyai Ali mansur seorang cucuk dari KH Muhammad Siddiq dari Jember.
Terciptanya sholawat ini lantaran keresahaan beliau memikirkan pergolakan politik yang ada di Indonesia, orang-orang PKI makin kuat di daerah pedesaan dan warga NU (Nahdiyin) mulai terdesak oleh segala intervensi yang dilakukan PKI. Dominasi kekuasaan PKI di Indonesia pun mulai terlihat, mereka sudah mulai berani membunuh Kyai-Kyai yang ada di desa yang menjadi senantiasa menjaga, ngayomi dan bimbing masyarakat di pedesaan.
Dua mimpi istimewa suami-istri ini menjadikan dirinya memperoleh ilham untuk menulis syair dan shalawat. Yang lebih aneh, esok harinya tetangga berdatangan membawa banyak bahan makanan, seolah-olah akan ada acara besar. Para tetangga ini bercerita bahwa pagi-pagi buta rumah mereka diketuk oleh orang-orang berjubah putih yang memberi tahu bahwa Kyai Ali Mansur akan ada kegiatan besar. Kyai Ali Mansur bingung karena tak punya hajatan besar apapun; namun para tetangga bergotong royong memasak di dapur sampai malam, siap-siap menyambut kedatangan tamu esok pagi.
Pagi hari, Kyai Ali Mansur duduk di rumahnya sambil bertanya-tanya siapa tamunya.. Lalu menjelang matahari muncul datanglah serombongan habaib dipimpin oleh Habib Ali ibn Abdurrahman al-Habsyi dari Kwitang, Jakarta.
Setelah mereka berbincang, Habib Ali Kwitang bertanya kepada Kyai Mansur; “Mana syair yang ente buat kemarin? Mohon bacakan dan lagukan di depan kami semua!” Kyai Ali Mansur kaget karena Habib Ali tahu apa yang dikerjakannya kemarin malam, padahal beliau belum bercerita kepada siapapun dan lagipula baru kali ini Habib Ali Kwitang datang jauh-jauh dari Jakarta ke Banyuwangi.
Kyai Ali Mansur kemudian membacakan syair itu sambil dilagukan. Dan memang Kyai yang satu ini suaranya sangat bagus. Para habaib mendengarkan, dan tak lama kemudian mereka menangis. Selesai dibaca, Habib Ali Kwitang berdiri dan berkata, “Ya Akhi, mari kita lawan Genjer-genjer PKI dengan Shalawat Badar!” Kemudian Kyai Ali Mansur diundang ke Kwitang untuk mempopulerkan Shalawat Badar di sana.
Karena itulah bacaan Shalawat Badar ini sering dipakai dalam istigotsah dan sering diamalkan para santri yang sedang menghadapi berbagai kesulitan. Meski sebagian kalangan non-NU menganggap shalawat ini bid’ah, namun dalam kenyataannya, para Wali Allah tak menganggapnya bid’ah dan bahkan mengakui dan mengamalkannya, seperti dicontohkan oleh ulama besar Habib Ali Kwitang.
Mudah2an kita diberi kelapangan dan kemampuan oleh Allah untuk mengamalkannya, membebaskan segala duka cita kita lantaran berkah Rasul dan para pahlawan badar…
Lirik sholawat badar
Shalaatullaah Salaamul laah ‘Alaa Thaaha Rasuulillaah
Shalaatullaah Salaamulleah ‘Alaa Yaa Siin Habiibillaah
Tawassalnaa Bibismi llaah Wabil Haadi Rasuulillaah
Wakulli Mujaahidin Lillaah Bi Ahlil Badri Yaa Allaah
llaahi Sallimil Ummah Minal Aafaati Wanniqmah
Wamin Hammin Wamin Ghummah Bi Ahlil Badri Yaa Allaah
Ilaahi Najjinaa Waksyif Jamii’a Adziyyatin Wahrif
Makaa idal ‘idaa wal thuf Bi Ahlil Badri Yaa Allaah
llaahi Naffisil Kurbaa Minal’Ashiina Wal’Athbaa
Wakulli Baliyyatin Wawabaa Bi Ahlil Badri Yaa Allaah
Wakam Min Rahmatin Washalat Wakam Min Dzillatin Fashalat
Wakam Min Ni’matin Washalat Bi Ahlil Bailri Yaa Allaah
Wakam Aghnaita Dzal ‘Umri Wakam Autaita D’Zal Faqri
Wakam’Aafaita Dzal Wizri Bi Ahlil Badri Yaa Allaah
Laqad Dlaaqat’Alal Oalbi Jamii’ul Ardli Ma’ Rahbi
Fa Anji Minal Balaas Sha’bi Bi Ahlil Badri Yaa A,llaah
Atainaa Thaalibir Rifdi Wajullil Khairi Was Sa’di
Fawassi’ Minhatal Aidii Bi Ahlil Badri Yaa Allaah
Falaa Tardud Ma’al Khaibah Balij’Alnaa’Alath Thaibah
Ayaa Dzal ‘lzzi Wal Haibah Bi Ahlil Badri Yaa Allaah
Wain Tardud Faman Ya-Tii Binaili Jamii’i Haajaati
Ayaa jalail mulimmaati Bi Ahlil Badri Yaa Allaah
llaahighfir Wa Akrimnaa Binaili Mathaalibin Minnaa
Wadaf i Masaa-Atin ‘Annaa Bi Ahlil Badri Yaa Allaah
llaahii Anta Dzuu Luthfin Wadzuu Fadl-Lin Wadzuu ‘Athfin
Wakam Min Kurbatin Tanfii Bi Ahlil Badri Yaa Allaah
Washalli ‘Alan Nabil Barri Bilaa ‘Addin Walaa Hashri
Wa Aali Saadatin Ghurri Bi Ahlil Badri Yaa Allaah
Arti dari Shalawat Badar atau Shalawat Badriyah :
Rahmat dan keselamatan Allah,
Semoga tetap untuk Nabi Thaaha utusan Allah,
Rahmat dan keselamatan Allah,
Semoga tetap untuk Nabi Yasin kekasih Allah’
Kami berwasilah dengan berkah “Basmalah”,
Dan dengan Nabi yang menuniukkan lagi utusan Allah,
Dan seluruh.orang yang beriuang .karena Allah,
Sebab berkahnya sahabat ahli badar ya Allah.
Ya Allah, semoga Engkau menyelamatkan ummat,
Dari bencana dan siksa,
Dan dari susah dan kesemPitan,
Sebab berkahnya sahabat ahli bariar ya Allah’
Ya AIlah semoga Engkau selamatkan kami dari semua yang menyakitkan,
Dan semoga Engkau (Allah) meniauhkan tipu dan daya musuh-musuh,
Dan semoga Engkau mengasihi kami,
sebab berkahnya sahabat Ahli Badar Ya Allah.
Ya Allah, semoga Engkau menghilangkan beberapa kesusahan
Dari orang-orang yang berma’siat dan semua kerusakan,
Dan semoga Engkau hitangkan semua bencana dan wabah penyakit’
Sebab berkahnya sahabat ahli Badar ya Allah
Maka sudah beberapa rahmat yang telah berhasil,
Dan sudah beberapa dari kehinaan yang dihilangkan,
Dan sudah banyak dari ni’mgt yang telah sampai,
Sebab berkahnya sahabal ahli Badar ya Allah’
Sudah berapa kati Engkau (Allah) memberi kekayaan orang yang makmur,
Dan berapa kati Engkau (Allah) memberi nikmat kepacla orang yang fakir,
Dan berapa kali Engkau (Allah) mengampuni orang yang berdosa,
Sebab berkahnya sahabat ahli Badar ya Allah.
Sungguh hati manusia merasa sempit di atas tanah yang luas ini;
karena banyakhya marabahaya yang mengerikan,
Dan malapetaka yang menghancurkan,
semoga Allah menyelamatkan kami dari bencana yang mengerikan,
Sebab berkahnya sahabat ahli Badar ya Allah.’
Kami datang dengan memohon pemberian/ pertolongan
Dan memohon agungnya kebaikan dan keuntungan
Semoga Allah meluaskan anugerah (keni’matan) yang melimpah-limpah.
Dari sebab berkahnya ahli Badar ya Allah.
Maka ianganlah Engkau (Allah) menolak kami menjadi rugi besar,
Bahkan jadikanlah diri kami dapat beramal baik, dan selalu bersuka ria.
Wahai Dzat yang punya keagungan (kemenangan) dan Prabawa,
Dengan sebab berkahnya sahabat ahli Badar ya Allah.
Jika Engkau (Allah) terpaksa menolak hamba, maka kepada siapakah
kami akan datang mohon dengan mendapat semua hajat kami;
Wahai Dzat yang menghilangkan beberapa bencana dunia dan
akhirat, hilangkan bencana-bencana hamba
lantaran berkahnya sahabat ahli Badar ya Allah.
Ya Allah, semoga Engkau rnengampuni kami dan memuliakan
diri kami, dengan mendapat hasil beberapa permahonan kami, dan
menolak keburukan-keburukan dari kami,
Dengan mendapat berkahnya sahabat ahli Badar ya Allah.
Ya Allah, Engkaulah yang punya belas kasihan,
dan punya keutamaan (anugerah) lagi kasih sayang,
Sudah banyaklah kesusahan yang hilang,
Dari sebab berkahnya sahabat ahli Badar ya Allah.
Dan semoga Engkau (Allah) melimpahkan rahmat kepada Nabi yang senantiasa berbakti kepada-Nya,
dengan limpahan rahmat dan keselamatan yang tak terbilang dan tak terhitung,
Dan semoga tetap atas para keluarga Nabi dan para Sayyid yang bersinar nur cahayanya,
sebab berkahnya sahabat ahli Badar ya Allah
Read More »
Label:
Islam
Rabu, 12 Juni 2013
SEJARAH YANG BENAR (Kiyai Wahab, NU Dan Khilafah: Sebuah Koreksi)
Ide tentang penegakan kembali
khilafah, sebagaimana yang telah saya jelaskan dalam disertasi, disuarakan
dengan sangat lantang dan nyaring oleh kelompok Islam kanan, utamanya adalah
Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Kelompok ini, seperti yang bisa disaksikan baik
lewat tulisan, orasi ketika berdemonstrasi, selalu mengulang-ulang untuk
menegakkan khilafah. Khilafah menjadi mainstream perjuangannya, bahkan
ideologi politiknya, yang kata mereka akan manjur untuk mengatasi seluruh
problem manusia di dunia ini.
Kelompok ini dengan semangat militan
berupaya merekrut kader sebanyak-banyaknya, tak terkecuali kader dari
ormas-ormas keagamaan baik NU maupun Muhammadiyah. Dalam upaya merekrut kader
dari kalangan NU, mereka menggunakan berbagai argumen yang diharapkan agar
kader-kader NU yang tulus dan lugu ini tertarik menjadi pengikutnya. Nampaknya,
argumen-argumen yang dikemukakan oleh aktivis HTI juga dapat memikat kader NU,
terbukti beberapa kader NU menjadi anggota Hizbut Tahrir (termasuk penulis yang
dulu juga pernah menjadi anggota Hizbut Tahrir).
Argumen yang dijadikan pijakan oleh
aktivis HTI untuk menundukkan kader dan warga NU paling tidak ada dua: pertama;
argumen historis kelahiran NU. Salah seorang aktivis HTI, Irkham Fahmi dalam
tulisannya, “Membongkar Proyek Demokrasi ala PBNU abad 21” menjelaskan bahwa
cikal bakal berdirinya Nahdlatul Ulama adalah cita-cita agung para ulama
nusantara yang tertuang dalam komite khilafah Indonesia. Selanjutnya Irkham
Fahmi menegaskan bahwa KH. Sholahuddin Wahid mengakui keabsahan sejarah ini,
sekalipun Gus Sholah menolak relevansi khilafah dengan Indonesia. Masih banyak
lagi tulisan-tulisan sejenis apabila kita berselancar di internet seperti
judul, “KH. Abdul Wahab Hasbullah, Tokoh NU & Inisiator Konferensi Khilafah
1926,” atau judul, “NU, NKRI dan Khilafah,” demikian pula judul, “Warga NU
Rindu Syariah dan Khilafah,” judul lain, “Respon NU atas Runtuhnya Khilafah,”
bahkan tidak hanya mencatut NU, tapi juga ormas Islam lain seperti judul,
“Generasi Awal Muhammadiyah & NU Ternyata Pendukung Khilafah.” Basis
argumen dari semua judul di atas adalah masalah komite khilafah.
Untuk menjawab argumen di atas,
secara historis memang pernah terbentuk apa yang disebut komite khilafah atau
CCC (Central Comite Chilafah). Namun yang perlu diklarifikasi adalah, komite
ini bukan dibentuk Mbah Wahab, tapi bentukan berbagai kelompok Islam (SI,
Muhammadiyah, al-Irsyad, PUI, dll) yang pada waktu itu mempunyai suara
mayoritas. Sekalipun bisa jadi Mbah Wahab dan ulama lain dari kalangan
pesantren pernah diajak untuk masuk komite ini. Bukti bahwa komite khilafah
bukan bentukan Mbah Wahab dan para ulama pesantren adalah pada kongres-kongres
selanjutnya para ulama ini tidak mengikutinya.
Justeru yang perlu ditegaskan,
selain ada komite khilafah, terdapat komite Hijaz yang memang genuine atau asli
bentukan para ulama pesantren yang nantinya bergabung dengan NU. Komite Hijaz
ini lahir, selain tidak sepahamnya Mbah Wahab dengan misi komite khilafah, juga
karena kurang aspiratifnya komite ini, juga semangat memperjuangkan tradisi ala
ulama seperti ziarah kubur, merayakan maulid Nabi, berislam dengan cara
bermazhab agar tidak diberangus oleh kelompok al-Saud atau Wahhabi yang saat
itu sampai sekarang berkuasa di Hijaz dan sekitarnya.
Komite Hijaz inilah salah satu cikal
bakal kelahiran NU. Akhirnya menjadi tidak benar kalau cikal bakal kelahiran NU
adalah dari komite khilafah yang berusaha melakukan pertemuan internasional
untuk membahas runtuhnya Turki Utsmani.
Argumen kedua diambilkan dari
teks-teks khilafah dalam kitab kuning. Para aktivis HTI memahami bahwa ulama
dan kader NU sangat mencintai kitab kuning yang ini dibuktikan dengan
diajarkannya kitab-kitab tersebut di pesantren-pesantren NU, sekaligus
kitab-kitab ini menjadi rujukan dalam bahtsul masail NU ketika menghadapi suatu
masalah baru dalam keagamaan. Salah seorang penulis dan aktivis HTI, Musthafa
A. Murtadlo menulis sebuah buku saku untuk memperkuat argumentasi khilafah
dengan mengumpulkan pendapat-pendapat para ulama salaf tentang hal tersebut.
Inti dari buku saku tersebut adalah semua ulama salaf dalam kitab kuning yang
menjadi rujukan NU mendukung ide khilafah. Lihat Musthafa A. Murtadlo, Aqwal
Para Ulama’ Tentang Wajibnya Imamah (Khilafah).
Argumen kedua ini kalau tidak
dicermati secara jeli, maka para kader NU yang tulus dan bergelut dengan kitab
kuning akan sangat mempercayainya kemudian mengapresiasi atau bahkan ikut HTI.
Namun yang perlu diketahui bahwa konsep atau pemikiran tentang kepemimpinan
umat Islam dari para ulama salaf tersebut tidak sama persis dengan yang
ditelorkan oleh Hizbut Tahrir.
Selain itu, dalam kitab-kitab klasik
tersebut hampir semua tema besarnya menyebut kata al-imamah atau al-imam
al-a’zhom. Penyebutan khilafah lebih jarang, hal ini berbeda dengan Hizbut
Tahrir yang lebih sering menyebut khilafah sebagai jargón perjuangannya. Bisa
diambil contoh dalam kitab-kitab klasik mazhab al-Syafi’i seperti kitab al-Umm
juz 1/188 karya al-Syafi’i, al-Ahkam al-Sulthaniyyah, hal. 5 karya al-Mawardi,
Rawdhat al-Thalibin wa ‘Umdat al-Muttaqin juz 10/42 karya al-Nawawi, Minhaj
al-Thalibin juz 1/292 karya al-Nawawi, Asna al-Mathalib juz 19/352 karya
Zakariya al-Anshari, Fath al-Wahhab juz 2/187 karya Zakariya al-Anshari, Minhaj
al-Thullab juz 1/157 karya Zakariya al-Anshari, Tuhfat al-Muhtaj juz 9/74 karya
Ibn Hajar a-Haytami, Mughni al-Muhtaj juz 5/409 karya Ahmad al-Khathib
al-Syarbini, Nihayat al-Muhtaj juz 7/409 karya al-Ramli.
Terakhir dan yang terpenting, untuk
menjawab argumen yang kedua sekaligus memperkuat bantahan untuk argumen yang
pertama. Kalau para kader NU yang hidup sekarang ini ketika memahami teks-teks
kitab kuning tentang imamah atau imam a’zhom tidak melewati model pemahaman
sekaligus “bertawassul” lewat Mbah Wahab (KH. Wahab Hasbullah), maka akan mudah
tertarik untuk ikut memperjuangkan khilafah ala HTI.
Perlu diketahui, Mbah Wahab dalam
pidatonya di parlemen pada tanggal 29 Maret 1954 yang dimuat dalam majalah Gema
Muslimin (copy arsip ada di penulis) dengan judul, “Walijjul Amri Bissjaukah”
mengatakan,
“Saudara2, dalam hukum Islam jang
pedomannja ialah Qur’an dan Hadits, maka di dalam kitab2 agama Islam
Ahlussunnaah Waldjama’ah jang berlaku 12 abad di dunia Islam, di situ ada
tertjantum empat hal tentang Imam A’dhom dalam Islam, jaitu bahwa Imam A’dhom
di seluruh dunia Islam itu hanja satu. Seluruh dunia Islam jaitu Indonesia,
Pakistan, Mesir, Arabia, Irak, mupakat mengangkat satu Imam. Itulah baru nama
Imam jang sah, jaitu bukan Imam jang darurat. Sedang orang jang dipilih atau
diangkat itu harus orang jang memiliki atau mempunyai pengetahuan Islam jang
semartabat mudjtahid mutlak. Orang jang demikian ini sudah tidak ada dari
semendjak 700 tahun sampai sekarang…. Kemudian dalam keterangan dalam bab jang
kedua, bilamana ummat dalam dunia Islam tidak mampu membentuk Imam A’dhom jang
sedemikian kwaliteitnja, maka wadjib atas ummat Islam di-masing2 negara
mengangkat Imam jang darurat. Segala Imam jang diangkat dalam keadaan darurat
adalah Imam daruri……..Baik Imam A’dhom maupun daruri, seperti bung Karno
misalnja, bisa kita anggap sah sebagai pemegang kekuasaan negara, ialah
Walijjul Amri.”
Pidato Mbah Wahab di atas setidaknya
dapat ditarik tiga pemahaman: pertama, bahwa mengangkat kepemimpinan tunggal
dalam dunia Islam baik yang disebut dengan imamah maupun khilafah sudah tidak
mungkin lagi karena syarat seorang imam yang setingkat mujtahid mutlak menurut
Mbah Wahab sudah tidak ada lagi semenjak 700 tahun sampai sekarang. Kedua, dari
pidato tersebut juga dapat ditarik kesimpulan bahwa presiden Indonesia berikut
NKRI adalah sah secara hukum Islam. Ketiga, pidato ini sekaligus menafikan
pendapat bahwa Mbah Wahab bercita-cita menegakkan kembali khilafah dengan
membentuk komite khilafah, karena terbukti Mbah Wahab menjelaskan bahwa sudah
700 tahun tidak ada orang yang setingkat mujtahid untuk menduduki kursi sebagai
Imam atau khalifah.
Lantas, apa ratio legis Mbah Wahab
dengan mengajukan argumen bahwa khilafah sudah tidak mungkin lagi karena syarat
seorang imam yang setingkat mujtahid mutlak sudah tidak ada lagi sejak 700
tahun. Kalau kita membuka lembaran kitab kuning semisal al-Ahkam
al-Sulthaniyyah karya Imam al-Mawardi, di situ dijelaskan bahwa ahlul imamah
(orang yang berkualifikasi menjadi imam) harus memenuhi syarat adil, berilmu
yang mampu untuk berijtihad, selamatnya pancaindera dan fisik dari kekurangan,
wawasan kepemimpinan yang luas, keberanian dan nasab Quraisy. Poin tentang
berilmu yang mampu untuk berijtihad inilah nampaknya yang dijadikan pijakan
Mbah Wahab.
Menarikanya lagi, dalam pidato
tersebut, Mbah Wahab menjelaskan lebih lanjut bahwa karena syarat menjadi imam
a’dhom (seperti dalam al-Mawardi) sudah tidak terpenuhi, maka Soekarno absah
menjadi pemimpin RI dengan gelar waliyyul amri ad-daruri bissyaukah. Artinya
syarat pemimpin yang ideal diturunkan menjadi syarat minimal realistis. Dengan
demikian, dapat ditarik kesimpulan lain bahwa Gus Dur yang mempunyai kekurangan
fisik juga absah menjadi presiden, karena memang presiden tidak sama dengan
imam a’dhom sehingga syarat ideal seperti dalam al-Mawardi tidak diperlukan.
Dari uraian singkat di atas, warga
dan kader NU sudah tidak perlu lagi terlibat dengan ikut memperjuangkan ide
khilafah. Justeru yang penting adalah mengisi NKRI supaya bersih dari korupsi
dan menjadi negara yang adil dan sejahtera. Di luar itu, soal kepemimpinan
akhir zaman yang mengglobal, kita serahkan saja kepada a waited savior yang
dipercaya oleh semua agama dengan berbagai sebutannya: al-Mahdi (Islam),
Christos/Christ (Kristen), Ha-Mashiah (Yahudi), Buddha Maytreya (Budha), Kalki
Avatar (Hindu), atau Shousyant (Majusi/Zoroaster). Terlebih hadis yang
menjelaskan tentang Imam Mahdi ini mutawatir tidak seperti hadis tentang
khilafah (Lihat kitab Nazhmul Mutanatsir minal Haditsil Mutawatir karya Syekh
Muhammad bin Ja’far Al- Kattani, dan Asy-Syaukani yang berjudul At-Taudhih Fi
Tawaturi Maa Ja-a Fil Mahdil Muntazhor wad-Dajjal wal-Masih). Dengan cara
demikian, rakyat Indonesia tidak akan terpecah pikiran dan energinya untuk
membongkar NKRI, tapi justru membangunnya demi keadilan, kesejahteraan, dan
kedamaian untuk semua warga bangsa. Wallahu a’lam.
Dr. H. Ainur Rofiq Al-Amin, SH, M.Ag
(Dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya,
Pengasuh Pesantren Tambakberas Jombang, dan penulis buku Membongkar Proyek
Khilafah ala HTI di Indonesia)
Read More »
Label:
Islam
Minggu, 19 Mei 2013
Urgensi Sholat
Oleh: Muhammad Noer
Shalat adalah salah
satu kewajiban kaum muslimin selain dari kewajiban-kewajiban yang lain. Shalat menjadi
rukun islam yang kedua setelah kita bersahadat, bersaksi bahwa tidak ada Illah
yang berhak disembah kecuali Allah SWT dan Muhammad adalah utusan Allah. Shalat
sangat penting bagi manusia. Saking pentingnya Allah SWT memerintahkan Nabi SAW
untuk Isra’ dan Mi’raj untuk menerima perintah shalat. Tidak seperti
kewajiban-kewajiban yang lain, Allah SWT sendiri yang memerintahkan Nabi
Muhammad dan kaumnya untuk melaksanakan shalat tanpa melalui perantara malaikat-malaikat
NYA.
Sering kali kita
dengar, bahwa shalat menjadi tiang agama. Apabila muslim tersebut istiqomah dalam
sholatnya, maka pondasi yang menjadi tiang pada diri muslim tersebut akan
kokoh. Namun begitupun sebaliknya, jika seorang muslim tersebut kurang menjaga
shalatnya maka rapuh pula pondasi keimanan pada dirinya. Sebagaimana Rasulullah
SAW bersabda:
“Shalat
adalah tiang agama. Barang siapa yang menegakkan shalat,maka berarti ia
menegakkan agama, dan barang siapa yang meninggalkan shalat berarti ia
merobohkan agama”. (HR. Bukhari Muslim)
Hadits
di atas merupakan suatu rujukan bahwa tegak dan tidaknya agama Islam pada diri
seorang muslim tergantung pada keistiqamahan seorang hamba dalam melaksanakan
shalatnya. Shalat tidak hanya dimaknai sebatas kewajiban, tetapi juga merupakan
suatu kebutuhan manusia. Dapat kita ibaratkan bahwa jasmani manusia membutuhkan
makan, minum dan lain sebagainya untuk tetap hidup, begitupun ruh / rohani
manusia butuh shalat dan amalan-amalan lainnya untuk tetap terjaga.
Selain
itu shalat adalah amalan yang pertama kali dihisab pada hari kiamat nanti. Shalatlah
yang akan menjadi tolak ukur keberuntungan kita. Apabila Shalatnya baik, maka
dia akan mendapat keselamatan namun apabila shalatnya tidak baik maka dia
termasuk orang yang merugi. Seperti Sabda Nabi Muhammad SAW:
Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda,
“Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah
shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan
keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada
yang kurang dari shalat wajibnya, Allah swt. mengatakan,’Lihatlah apakah pada
hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan
menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti
itu.”(HR. at-Tirmidzi).
Nah sekarang jelas
lah bahwa shalat sangat penting bagi kaum muslimin. Shalat adalah hak Allah
untuk kita ibadahi dengan tanpa menyekutukannya. Shalat juga sebagai pembeda
antara kita (kaum muslimin) dengan kaum kafir. Dan merupakan sebagai sebuah ciri
dari umat islam.
"Batas antara seseorang dengan kekufuran adalah meninggalkan
shalat. (HR. Muslim)
Juga dalam riwayat lain disebutkan bahwa:
"Perjanjian antara kita dengan mereka adalah shalat, maka
barangsiapa yang meninggalkan berarti ia kafir." (HR- Nasa'i, Tirmidzi dan
Ahmad).
Shalat juga bisa sebagai
medan jihad kita mengalahkan hawa nafsu. Karena jihad yang paling besar
sebenarnya melawan hawa nafsu kita, mengenyampingkan urusan dunia saat
terdengar adzan dan segera mendatangi seruan tersebut. Seperti kata seorang
sahabat Rasulullah SAW:
Tidakkah
engkau tahu anakku,
segala
uzur telah dihapus dg firmanNya:
“Berangkatlah
kamu baik dalam keadaan ringan ataupun berat!”
(QS.
At- Taubah: 41)
-Abu
Ayyub AlAnshari RA-
Bahkan kewajiban shalat
pun diberikan kepada orang yang cacat fisiknya (buta). Bahkan selama orang
tersebut masih bisa mendengar adzan, dan dalam keadaan sadar.
Dari Abu Hurairah
ra., dia berkata, “Telah datang kepada Nabi seorang laki-laki buta, dia
berkata,`Wahai Rasulullah saya tidak memiliki penuntun yg
bisa menuntun saya ke mesjid’. Orang tadi memohon kepada Rasulullah agar
memberi keringanan untuknya sehingga ia shalat di rumahnya, maka beliau pun
memberikan izin untuknya. Tetapi tatkala orang itu mau pergi beliau memanggilnya
dan bertanya, `Apakah kamu mendengar adzan shalat?’. Dia jawab, `Ya’. Beliau
bersabda, `Kalau begitu datangilah (panggilan shalat itu)’ (HR. Muslim)
Ibnu Qudamah berkata dalam Al Mugni 2/130, “Kalau Nabi ShallallaHu
`alaiHi wa sallam saja tidak memberi keringanan kepada orang buta yang tidak
ada penuntun baginya maka selainnya tentu lebih utama”.
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu
dan sembahlah olehmu akan Tuhanmu serta berbuatlah kebajikan agar kamu
memperoleh kemenangan”. (QS. Al-Haj, ayat 77).
Wallohu ‘alam bis showab….
Semoga bermanfaat….
Read More »
Label:
Islam
Nasehat khalifah kepada umat.
- Sabar memiliki dua sisi, sisi yang satu adalah sabar, sisi yang lain adalah bersyukur kepada Allah Swt. (Ibnu Mas’ud)
- Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah untuk tenang dan sabar. (Khalifah Umar Ibn Khattab)
- Malam berlalu, tapi tak mampu kupejamkan mata dirundung rindu kepada mereka, yang wajahnya mengingatkanku akan surga.. Wahai fajar terbitlah segera, agar sempat ku katakan pada mereka “aku mencintai kalian karna Allah” (Umar ibn Khaththab)
- “Kalaulah syukur dan sabar adalah kendaraan, maka aku tak peduli menaiki yang mana. Karena separuh iman adalah kesabaran dan setengahnya lagi adalah kesyukuran.” (Umar bin Khattab)
- “jika kau merasa lelah karena melakukan kebaikan, maka ketahuilah rasa lelah itu akan segera menghilang dan kebaikan itu akan kekal abadi” (Ali bin abi thalib)
- “Manusia yang paling lemah ialah orang yang tidak mampu mencari teman. Namun yang lebih lemah dari itu ialah orang yang mendapatkan banyak teman tetapi menyia-nyiakannya” (Ali bin Abu Thalib)
- “Tak ada nikmat yang lebih baik dari teman yang shalih, yang diberikan kepada seorang muslim setelah Islam. Jika dia lupa, temannya mengingatkannya, jika dia ingat ia membantunya. Siapa diantara kalian mendapatkan cinta dari temannya hendaklah ia memegangnya, karna sesungguhnya hal itu sangat jarang ditemukan.” (Umar bin Khatab)
- “Kebaikan yang tidak terorganisir dengan baik akan mampu terkalahkan oleh kejahatan yang terorganisir dengan baik” (Ali Ibn Abi Thalib)
- Lima Tanda Orang Bijak : 1. Hatinya selalu memiliki niat suci, 2. Lidahnya selalu basah dengan dzikrullah, 3. Matanya menangis karena penyesalan (terhadap dosa-dosanya) 4. Segala permasalahan dihadapinya dengan sabar dan tabah, 5. Ia selalu mengutamakan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia. (Utsman Ibn Affan)
- “Aku khawatir terhdap suatu masa yang rodanya dapat menggilas keimanan. Keyakinan hanya pemikiran YANG TAK BERBEKAS PADA PERBUATAN. Ada ahli ibadah tapi mewarisi kesombongan iblis & ada ahli maksiat tapi rendah hati bagai sufi. Ada yang wajahnya tersenyum tapi hatinya mengumpat & ada yang berhati tulus tapi wajah cemberut. Ada yang banyak tertawa sampai hatinya berkarat & Ada yang banyak menangis karna kufur nikmat. Ada yang berlisan bijak tapi tak memberi teladan & ada yang bermaksiat tapi menjadi figur. Ada yang pintar tapi membodohi & ada yang pintar tapi tak tahu diri. Ada yang beragama tapi tak berakhlak & ada yang berakhlak tp tak bertuhan. Pada keadaan seperti ini, dimanakah aku berada? ” (Ali bin Abi Thalib RA)
Read More »
Label:
Islam
Pentingnya Shalat dengan Khusu’
Rukun islam yang ke-2. setelah kita mengucapkan syahadatain. persaksian kita bahwa tidak ada Illah yang berhak disembah / di ibadahi kecuali Allah SWT dan bahwasanya Nabi Muhammad SAW adalah Rasul (utusan) Allah SWT.
Shalat adalah ibadah pertama yang akan dihisab pada hari
akhir, sebelum amal2 yang lain…
Kalo sholat kita bagus, amal yang lain ikut bagus. Begitupun
sebaliknya….
Lalu kenapa ada orang yang sudah sholat, namun perbuatannya
tidak mencerminkan orang yang baik,…
1.kurang khusu dalam sholat.
jangan sampai shalat kita menjadi sia-sia karena tidak bisa
khusyu dalam shalat, oleh karena itu admi menulis artikel islami tentang
pentingnya khusyu’ di dalam shalat.
Firman Allah SWT : Sesungguhnya beruntunglah
orang-orang yang beriman yaitu orang-orang yang khusyu dalam sholatnya dan
orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada
berguna (Qs.
Al-mu’minun)
Dari ayat diatas jelaslah bahwa seseorang yang
tidak melaksanakan kekhusyu’an itu adalah sama halnya dengan menghindarkan diri
dari tujuan untuk menuju keuntungan serta keselamatan, padahal inilah
pengertian kebahagiaan yang sebenar-benarnya.
betapa nikmatnya apabila kita dapat melakukan
shalat dengan khusyu, dan sudah menjadi janji Allah, apabila kita dapat
melakukan shalat dengan khusyu, maka Allah akan memberikan kebahagian di dunia
dan di akhirat. Amin!
Berikut adalah 7 alasan mengenai
pentingnya khusyuk dalam shalat.
1.
Shalat adalah doa
Secara harfiah,shalat adalah doa.Semua bacaan dalam shalat berisi doa.Dalam
ajaran Islam,doa menempati posisi sentral.Bahkan,Nabi Muhammad SAW.pernah
bersabda jika doa merupakan senjata orang beriman.Oleh karena itu,sebagai seorang
muslim kita diwajibkan selalu berdoa kepada Allah Subhanahu Wata'ala.Agar bisa
meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.
2.
Sarana meminta ampunan
Kesejukan dalam shalat akan membawa hati untuk bersyukur dan mohon ampun kepada
Allah Subhanahu Wata'ala.Tidak terasa,air mata akan mengalir ketika kita shalat
dengan khusyuk.
3.
Menjadi dekat dengan Allah
Jika melaksanakan shalat dengan baik,khusyuk,dan tumaninah,kita akan merasa
sedih saat shalat harus berakhir.Rasanya ingin berlama-lama
"berbincang" dengan Allah Subhanahu Wata'ala.
4.
Solusi permasalahan hidup
saat melaksanakan shalat dengan khusyuk,kita akan mampu
"menghadirkan" Allah Subhanahu Wata'ala.Kita akan merasa dekat dan
akan selalu menjaga diri dari perbuatan-perbuatan tercela.
5.
Melembutkan hati
Terkadang,hati kita menjadi keras karena kesibukan dalam bekerja atau
menghadapi masalah.Dengan shalat khusyuk,hati menjadi lebih lunak karena
seringnya berserah diri dan merendah di hadapan Allah Subhanahu Wata'ala.
6.
Melatih kesabaran
Jika kita melaksanakan shalat dengan tumaninah,khusyuk,dan tidak
tergesa-gesa,maka dengan mudah kita akan terlatih untuk sabar pada waktu-waktu
di luar shalat.
7.
Menyembuhkan penyakit
Shalat merupakan terapi rohani untuk kesembuhan.Shalat bisa mencegah naik
turunnya hormon kortisol yang berperan sebagai indikator stres.Sebagaimana kita
tahu,stres merupakan salah satu faktor utama munculnya penyakit.Jika kita
sedang menghadapi masalah dan rasa sakit,shalatlah dengan khusyuk.Dijamin,semua
rasa sakit itu akan hilang.
marilah
memulai untuk memantapkan shalat kita dengan khusyu’, agar kita dapat merasakan
kenikmatan yang sungguh luar biasa dan dapat merasakan kedekatan kita kepada
sang Maha Pencipta yakni Allah Subhanallahu Wa Ta’ala.
Read More »
Label:
Islam
Cinta, Takut dan Harap Kepada Allah SWT
Oleh: Abu Uzair Boris Tanesia
Ibadah
bukanlah sekedar gerakan jasad yang terlihat oleh mata, namun juga harus
menyertakan yang lain. Sebagaimana seseorang yang sedang melaksanakan sholat,
ia tidak hanya bergerak untuk melaksanakan setiap rukun dan wajib sholat,
tetapi juga harus menghadirkan hati sebagai ruh sholat tersebut. Bahkan jika
seseorang menampakkan kekhusyukan badan dan hatinya kosong dan bermain-main
maka ia terjatuh dalam kekhusyukan kemunafikan.
Ketahuilah, bahwa ibadah seorang
hamba harus dibangun oleh tiga pilar, dan ketiganya harus terkumpul seluruhnya
dalam setiap muslim. Ibadah seseorang tidaklah akan benar dan sempurna kecuali
dengan adanya pilar-pilar tersebut. Bahkan sebagian ulama mengatakannya sebagai
‘rukun ibadah’. Tiga hal itu adalah “cinta, takut dan harap”. Sehingga
seorang salaf berkata,
“Barang siapa beribadah kepada Alloh
dengan cinta saja maka dia seorang zindiq, barang siapa beribadah hanya dengan
khouf (takut) saja maka haruri (khowarij), barang siapa beribadah hanya dengan
rasa harap saja maka dia seorang murji’ dan barang siapa yang beribadah dengan
cinta, takut dan harap maka dia seorang mukmin.”
Cinta
Cinta adalah rukun ibadah yang
terpenting, karena cinta adalah pokok
ibadah. Makna cinta tidak terbatas hanya
kepada hubungan kasih antara dua insan semata, namun sesungguhnya makna dari
cinta itu lebih luas dan dalam. Kecintaan yang paling agung dan mulia di dalam
kehidupan kita ini adalah kecintaan kita kepada Alloh. Dimana jika seorang
hamba mencintai Alloh, maka dia akan rela untuk melakukan seluruh hal yang
diperintahkan dan menjauhi seluruh hal yang dilarang oleh yang dicintainya
tersebut. Cinta kepada Alloh juga mengharuskan membenci segala sesuatu yang
dibenci oleh Alloh. Sesungguhnya apabila ditanyakan kepada setiap muslim “Apakah
anda mencintai Alloh?” maka tentu dia akan menjawab “Tentu
saja”.
Namun pernyataan tanpa bukti
tidaklah bermanfaat. Alloh tidak membutuhkan pernyataan belaka, Dia
menginginkan agar kita membuktikan pernyataan kita “Aku cinta Alloh”.
Oleh karena itulah, Alloh menguji setiap muslim dalam firman-Nya,
“Katakanlah (wahai
muhammad): Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah
mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (Ali Imran: 31).
Ya, bukti kecintaan kita kepada
Alloh adalah dengan mengikuti Rasululloh dalam segala hal. Bahkan kecintaan
kita terhadap beliau harus lebih dari kecintaan kita terhadap diri sendiri
dan keluarga. Beliaulah
teladan baik dalam aqidah,
ibadah, akhlak, muamalah dan sebagainya.
Alloh berfirman, “Sesungguhnya
telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah.” (Al Ahzab: 21)
Maka jika kita mencintai Alloh, mari
kita buktikan dengan menjadikan Rasululloh sebagai panutan kita, bukan dengan
menjadikan orang-orang kafir sebagai panutan, walaupun mereka itu populer dan
terkenal seperti artis, selebritis dan semacamnya. Karena sesungguhnya
Rosululloh bersabda
“Seseorang itu akan bersama dengan
orang yang dicintainya (di hari akhirat nanti).” (HR.
Muslim).
Dimana makna dari hadits ini
adalah jika ketika di dunia kita mencintai orang-orang shaleh (seperti para
rosul dan nabi) dan menjadikan mereka teladan, maka di akhirat nanti kita akan
bersama mereka, dan sebaliknya jika ketika di dunia kita mencintai orang-orang
kafir dan menjadikan mereka teladan, maka di akhirat nanti kita pun akan
bersama mereka. Bukankah tempat mereka di akherat merupakan seburuk-buruk
tempat. Duhai, betapa musibah yang
sangat besar!
Takut
Pilar lainnya yang mesti ada dalam
ibadah seorang muslim adalah rasa takut. Dimana dengan adanya rasa takut,
seorang hamba akan termotivasi untuk rajin mencari ilmu dan beribadah kepada Alloh semata
agar bebas dari murka dan adzab-Nya. Selain itu, rasa takut inilah yang juga
dapat mencegah keinginan seseorang untuk berbuat maksiat. Alloh
berfirman,
“(Yaitu) orang-orang yang takut akan
(azab) Tuhan mereka, sedang mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut
akan (tibanya) hari kiamat.” (Al Anbiya: 49)
Rasa
takut ada bermacam-macam, namun yang takutnya seorang muslim ialah takut akan
pedihnya sakaratul maut, rasa takut akan adzab kubur, rasa takut terhadap siksa
neraka, rasa takut akan mati dalam keadaan yang buruk (mati dalam keadaan
sedang bermaksiat kepada Alloh), rasa takut akan hilangnya iman dan lain
sebagainya. Rasa takut semacam inilah yang harus ada dalam hati seorang hamba.
Harap
Pilar berikutnya yang harus ada
dalam ibadah seorang hamba adalah rasa harap. Rasa harap yang dimaksud adalah
antara lain harapan akan diterimanya amal kita, harapan akan dimasukkan surga,
harapan untuk berjumpa dengan Alloh, harapan akan diampuni dosa, harapan untuk
dijauhkan dari neraka, harapan diberikan kehidupan yang bahagia di dunia dan
akhirat dan lain sebagainya. Rasa harap inilah yang dapat mendorong seseorang
untuk tetap terus berusaha untuk taat, meskipun sesekali dia terjatuh ke dalam
kemaksiatan namun dia tidak putus asa untuk terus berusaha sekuat tenaga untuk
menjadi hamba yang taat. Karena dia berharap Alloh akan mengampuni dosanya
yaitu dengan jalan bertaubat dari kesalahannya tersebut dan memperbanyak
melakukan amal kebaikan.
Sebagaimana firman Alloh “Wahai
hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah
kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa
semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Az
Zumar: 53)
Harapan
berbeda dengan angan-angan. Sebagai contoh orang yang berharap menjadi orang
baik maka ia akan melakukan hal-hal yang merupakan ciri-ciri orang baik,
sedangkan orang yang berkeinginan menjadi orang baik namun tidak berusaha untuk
melakukan kebaikan maka orang-orang inilah yang tertipu oleh angan-angan
dirinya sendiri.
Urgensi Cinta, Takut dan Harap Dalam
Ibadah
Ketiga
pilar yang telah disebutkan di atas harus terdapat dalam setiap ibadah seorang
hamba. Tidaklah benar ibadah seseorang jika satu saja dari ketiga hal tersebut
hilang. Seseorang yang memiliki rasa takut yang berlebihan akan menyebabkan
dirinya putus asa, sedangkan jika rasa takutnya rendah maka dengan mudahnya dia
akan bermaksiat kepada Tuhannya.
Kebalikannya
seseorang yang berlebihan rasa harapnya akan menyebabkan dia mudah bermaksiat
dan jika rendah rasa harapnya maka dia akan mudah putus asa. Sedangkan
kedudukan cinta, maka cinta inilah yang mendorong seseorang untuk melakukan
sesuatu. Sehingga diibaratkan bahwa kedudukan ketiga pilar ini dalam ibadah
bagaikan kedudukan seekor burung, dimana rasa takut dan harap sebagai kedua
sayapnya yang harus seimbang dan rasa cinta sebagai kepalanya yang merupakan
pokok kehidupannya.
***
Dari artikel Cinta, Takut dan Harap Kepada Alloh — Muslim.Or.Idnull
Read More »
Label:
Islam
Lirik Shalawat Ilahillas.
ilaahiilastu lilfirdausiahlaa walaa aqwaa 'alaa naariljahiimi fahabli taubatan waagfir dzunuubii faa innaka ghoofirudzdzanbil adziimi..iki syi'ir bagus banget dimengerti dulur kabeh lanang wadon kang gemati..
sebab iki syi'ir ngandarake dugo toto keromo sartho budi kang prayogo..
iki mongso akeh banget wong kang lali ora keroso laku duso bolabali...
akeh bocah podho rusak pakertine mergo saking pergaulan bendinane...
nganti ora podho open neng agomo ora mendho di tuturi ibu romo...
temahane banjur wani ing wong sepuh yen dielengake malah males misuh..
mugo iki singir biso migunani marang ingkang maos ugi kang mirsani..
Read More »
Label:
Islam
Sabtu, 18 Mei 2013
Nasihat Rasul SAW untuk Para Pemuda
Dari Abu Abbas
Abdillah bin Abbas ra berkata, Suatu hari aku sedang berada di belakang
Rasulullah SAW (di atas binatang tunggangannya), lalu beliau bersabda:
“Wahai pemuda! Aku hendak mengajarimu beberapa kalimat:
1. “Jagalah (perintah) Allah, maka Dia akan menjagamu;
2. jagalah (kehormatan) Allah, niscaya engkau akan
mendapati-Nya bersamamu;
3. Bila engkau memohon sesuatu, mohonlah kepada-Nya semata;
4. Bila engkau meminta pertolongan, minta tolonglah kepada
Allah semata.
5. Ketahuilah bahwa seandainya seluruh umat ini berkumpul
untuk memberikan sesuatu yang bermanfa’at bagimu, maka mereka tidak akan bisa
memberi manfa’at kepadamu, melainkan dengan sesuatu yang telah ditaqdirkan oleh
Allah kepadamu.
6. Begitu juga seandainya seluruh umat ini berkumpul untuk
memberikan sesuatu yang merugikanmu, maka mereka tidak akan bisa merugikanmu
kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah terhadapmu.
Pena-pena telah diangkat (tulisan) dan lembaran-lembaran
telah mengering tintanya (buku catatan)”.
(HR. Tirmidzi dan ia menyatakan sebagai hadits hasan
shahih).
Read More »
Label:
Islam
Doa dan Keutamaan Shalat Hajat
Dan mintalah pertolongan
kepada Tuhanmu dengan melaksanakan shalatdan dengan sikap sabar.” (QS Al-Baqarah
[2]: 45).
Hajat secara harfiah artinya kebutuhan. Jika kita memiliki kebutuhan
atau keinginan, Rasulullah menganjurkan kita untuk shalat yakni shalat hajat.
“Barangsiapa yang memunyai kebutuhan (hajat) kepada Allah atau salah seorang
manusia dari anak-cucu adam, maka wudhulah dengan sebaik-baik wudhu. Kemudian shalat dua rakaat (shalat hajat), lalu memuji
kepada Allah, mengucapkan salawat kepada Nabi saw Setelah itu, mengucapkan “Laa illah
illallohul haliimul kariimu, subhaanallohi robbil ‘arsyil ‘azhiim… (HR Tirmidzi
dan Ibnu Majah)
Diriwayatkan dari Abu Sirah an-Nakh’iy, dia berkata, “Seorang laki-laki
menempuh perjalanan dari Yaman. Di tengah perjalan keledainya mati, lalu dia
mengambil wudhu kemudian shalat dua rakaat, setelah itu berdoa. Dia
mengucapkan, “Ya Allah, sesungguhnya saya datang dari negeri yang sangat jauh
guna berjuang di jalan-Mu dan mencari ridha-Mu. Saya bersaksi bahwasanya Engkau
menghidupkan makhluk yang mati dan membangkitkan manusia dari kuburnya,
janganlah Engkau jadikan saya berhutang budi terhadap seseorang pada hari ini.
Pada hari ini saya memohon kepada Engkau supaya membangkitkan keledaiku yang
telah mati ini.” Maka, keledai itu bangun seketika, lalu mengibaskan kedua
telinganya.” (HR Baihaqi)
Shalat hajat dilakukan minimal 2 raka’at dan maksimal 12 raka’at dengan salam
setiap 2 rakaat. Shalat ini dapat dilakukan kapan saja asalkan
tidak pada waktu-waktu yang dilarang untuk melakukan shalat seperti saat matahari terbit atau
terbenam atau pada saat menstruasi pada wanita. Kita boleh melakukanya malam
atau siang hari. Terserah kapan kita bisa.
Ushallii sunnatal haajati rak’aataini lillaahi ta’aala.
Dalam kitab Tajul Jamil lil ushul, dianjurkan setelah shalat hajat membaca istigfar 100x, seperti
kalimat istigfar yang biasa atau membaca istigfar berikut:
Astagfirullaha rabbi min kulli dzanbin wa atuubu ilaiih.
Artinya: “Aku memohon ampunan kepada Tuhanku, dari dosa-dosa, dan aku bertaubat
kepada-Mu”
Allahuma shalli ‘alaa sayyidinaa
Muhammadin shalaatarridhaa wardha ‘an ashaabihir ridhar ridhaa.
Artinya: “Ya Allah, beri karunia kesejahteraan atas jungjunan kami Muhammad,
kesejahteraan yang diridhai, dan diridailah daripada sahabat-sahabat sekalian.”
Setelah itu, mohonlah kepada Allah apa yang kita inginkan, insya Allah, Allah
mengabulkannya. Amin. Dan ikutilah dengan membaca doa berikut!
Laa
ilaha illallohul haliimul kariimu subhaanallohi robbil ‘arsyil ‘azhiim. Alhamdu
lillaahi robbil ‘aalamiin. As `aluka muujibaari rohmatika wa ‘azaaima
maghfirotika wal ghoniimata ming kulli birri wassalaamata ming kulli itsmin.
Laa tada’ lii dzamban illa ghofartahu walaa hamman illaa farojtahu walaa
haajatan hiya laka ridhon illa qodhoitahaa yaa arhamar roohimiin.
Artinya: “Tidak ada Tuhan melainkan Allah Yang Maha Lembut dan Maha Penyantun.
Maha Suci Allah, Tuhan pemelihara Arsy yang Maha Agung. Segala puji bagi Allah
Tuhan seru sekalian alam. Kepada-Mu-lah aku memohon sesuatu yang mewajibkan
rahmat-Mu, dan sesuatu yang mendatangkan ampunan-Mu dan memperoleh keuntungan
pada tiap-tiap dosa. Janganlah Engkau biarkan dosa daripada diriku, melainkan
Engkau ampuni dan tidak ada sesuatu kepentingan, melainkan Engkau beri jalan
keluar, dan tidak pula sesuatu hajat yang mendapat kerelaan-Mu, melainkan
Engkau kabulkan. Wahai Tuhan Yang Paling Pengasih dan Penyayang.”
bersumber dari :
http://rahmatmuntaha.com/
Read More »
Label:
Islam
Langganan:
Postingan (Atom)


.jpg)
