Tampilkan postingan dengan label Kisah Hikmah. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 08 Juni 2013
Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW, Sebuah perjalanan yang penuh makna
oleh: Muhammad Noer
Isra' Mi'raj adalah sebuah perjalanan suci yang
dilakukan oleh orang terbaik yang pernah hidup di muka bumi ini. Perjalanan
yang tak satupun manusia mampu melakukannnya kecuali atas izin Allah SWT.
Secara istilah Isra' diartikan perjalanan Nabi
Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah al Mukaromah menuju ke Masjidil Aqsa
di Palestina pada malam hari yang bertepatan dengan malam 27 Rajab satu tahun
sebelum Hijrahnya Nabi ke Madinah.
Sedangkan Mi'raj menurut Istilah adalah adalah naiknya Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Aqsha
ke langit sampai ke Sidrat al-Muntaha, terus sampai ke tempat yang paling
tinggi untuk menghadap kepada Allah. Pada malam 27 Rajab. Mi’raj adalah
kelanjutan dari Isra’ yang dikerjakan oleh Rasulullah saw, kedua-duanya dalam
waktu satu malam.
Perjalanan agung ini
diabadikan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Isra’ ayat pertama:
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan
hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidilharam ke Al Masjidilaksa yang telah
Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari
tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha
Melihat”
Perjalanan Isra’ Mi’raj ini bukanlah kehendak
Nabi Muhammad SAW dan bukan karena kemampuan manusiawi beliau. Karena secara
fisik beliau adalah sama, yakni manusia namun secara derajat beliau sangatlah
mulia sehingga atas kehendak Allah SWT beliau melakukan perjalanan menerobos
ruang dan waktu yang tak mungkin bisa dilakukan oleh manusia lain.
Banyak riwayat menyebutkan bahwa dalam
perjalanan Isra’ mi’raj tersebut beliau ditemani Ruhul Qudus (malaikat Jibril)
dengan mengendarai buraq. Kendaraan yang melesat seperti kecepatan kilat. Nabi
SAW juga menjelaskan kendaraannya tersebut dalam sebuah hadits:
“Di dalam hadis
riwayat Imam Muslim yang nama lengkapnya al-Imam abi al-Husein Muslim ibn
Hajjaj ibn Muslim al-Qusyairi al-Nisaburi, di dalam kitabnya al-Jami’ al-Sahih
juz I halaman 99, yang bersumber dari sahabat Anas bin Malik, ia berkata:
adalah Rasulullah SAW. bersabda: didatangkan kepadaku Buraq, yaitu hewan
(dabbah) yang berwarna putih (abyadh), bertubuh panjang (thawil), lebih besar
dari keledai dan lebih kecil dari baghal, dan sekali ia menjejakkan kakinya
yang berkuku bergerak sejauh mata memandang.”
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa:
Imam Jalaluddin al-Suyuti mengatakan, “Abu al-Fadhal bin Umar…. Dari
Qonan bin Abdullah al-Nuhmi dari Abu Tibyan al-Janbi dari Abu ‘Ubaidah, yaitu
Abdullah bin Mas’ud, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,
” Jibril mendatangiku dengan seekor hewan yang tingginya di atas keledai
dan di bawah baghal, lalu Jibril menaikkanku di atas hewan itu kemudian
bergerak bersama kami, setiap kali naik maka kedua kakinya yang belakang
sejajar dengan kedua kaki depannya, dan setiap kali turun kedua kaki depannya
sejajar dengan kedua kaki belakangnya”
(al-Said ‘Alawi al-Maliki al-Hasani di dalam kitabnya al-Anwar
al-Bahiyyah min Isra’ wa Mi’raj Khair al-Bariyyah, halaman 111)
Perjalanan dengan Buraq tersebut dimulai, dan di tengah perjalanan
Rasulullah diminta turun oleh malaikat jibril. Jibril
berkata, “turunlah dan kerjakan shalat”.
Rasulullahpun turun.
Jibril berkata, “dimanakah engkau sekarang ?”
“tidak tahu”, kata
Rasul.
“Engkau berada di
Madinah, disanalah engkau akan berhijrah “, kata Jibril.
Perjalanan dilanjutkan
ke Syajar Musa (Masyan) tempat penghentian Nabi Musa ketika lari dari Mesir,
kemudian kembali ke Tunisia tempat Nabi Musa menerima wahyu, lalu ke Baitullhmi
(Betlehem) tempat kelahiran Nabi Isa AS, dan diteruskan ke Masjidil Aqsha di
Yerussalem sebagai kiblat nabi-nabi terdahulu.
Jibril menurunkan
Rasulullah dan menambatkan kendaraannya. Setelah rasul memasuki masjid ternyata
telah menunggu Para nabi dan rasul. Rasul bertanya : “Siapakah mereka ?”
“Saudaramu para Nabi dan
Rasul”.
Kemudian Jibril
membimbing Rasul kesebuah batu besar, tiba-tiba Rasul melihat tangga yang
sangat indah, pangkalnya di Maqdis dan ujungnya menyentuh
langit. Kemudian Rasulullah bersama Jibril naik tangga itu menuju kelangit
tujuh dan ke Sidratul Muntaha.
Di dalam perjalanan
beliau menuju ke Sidratul muntaha, Rasulullah SAW bertemu dengan nabi-nabi
sebelumnya. Pada saat naik ke langit pertama Beliau SAW bertemu dengan nabi
Adam AS, pada langit ke-2 Beliau bertemu dengan nabi Isa dan Yahya AS, naik ke
langit ke-3 bertemu dengan nabi Yusuf AS, langit ke-4 bertemu dengan nabi Iddris
AS, langit ke-5 bertemu nabi Harun AS, pada langit ke-^ bertemu nabi Musa AS,
sedangkan pada langit ke-7 Beliau bertemu dengan nabi Ibrahim AS.
Dan pada saat Isra’ mi’raj
tersebut Rasulullah SAW dapat melihat malaikat Jibril dalam wujud Aslinya
seperti di jelaskan dalam Al-Qur’an yang artinya:
“Dan sesungguhnya nabi Muhammad telah melihatJibril itu (dalam
rupanya yang asli) pada waktu yang lain, yaitu di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal,
(Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratull Muntaha diliputi oleh sesuatu yang
meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dariyang dilihatnya itu
dan tidakpula melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian
tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (QS. An-Najm : 13 – 18).
Selanjutnya Rasulullah
melanjutkan perjalanan menghadap Allah tanpa ditemani Jibril Rasulullah membaca
yang artinya : “Segala penghormatan adalah milikAllah, segala Rahmat dan
kebaikan“.
Allah berfirman yang
artinya: “Keselamatan bagimu wahai seorang nabi, Rahmat dan berkahnya“.
Rasul membaca lagi yang
artinya: “Keselamatan semoga bagi kami dan hamba-hamba Allah yang sholeh.
Rasulullah dan ummatnya menerima perintah ibadah shalat“.
Berfirman Allah SWT :
“Hai Muhammad Aku mengambilmu sebagai kekasih sebagaimana Aku telah mengambil
Ibrahim sebagai kesayanagan dan Akupun memberi firman kepadamu seperti firman
kepada Musa Akupun menjadikan ummatmu sebagai umat yang terbaik yang pernah
dikeluarkan pada manusia, dan Akupun menjadikan mereka sebagai umat wasath
(adil dan pilihan), Maka ambillah apa yang aku berikan kepadamu dan jadilah
engkau termasuk orang-orang yang bersyukur“.
“Kembalilah kepada
umatmu dan sampaikanlah kepada mereka dari Ku”.
Kemudian Rasul turun ke
Sidratul Muntaha.
Jibril berkata : “Allah
telah memberikan kehormatan kepadamu dengan penghormatan yang tidak pernah
diberikan kepada seorangpun dari makhluk Nya baik malaikat yang terdekat maupun
nabi yang diutus. Dan Dia telah membuatmu sampai suatu kedudukan yang tak
seorangpun dari penghuni langit maupun penghuni bumi dapat mencapainya.
Berbahagialah engkau dengan penghormatan yang diberikan Allah kepadamu berupa
kedudukan tinggi dan kemuliaan yang tiada bandingnya. Ambillah kedudukan
tersebut dengan bersyukur kepadanya karena Allah Tuhan pemberi nikmat yang
menyukai orang-orang yang bersyukur”.
Lalu Rasul memuji Allah
atas semua itu.
Kemudian Jibril berkata
: “Berangkatlah ke surga agar aku perlihatkan kepadamu apa yang menjadi milikmu
disana sehingga engkau lebih zuhud disamping zuhudmu yang telah ada, dan sampai
lah disurga dengan Allah SWT. Tidak ada sebuah tempat pun aku biarkan terlewatkan”.
Rasul melihat gedung-gedung dari intan mutiara dan sejenisnya, Rasul juga
melihat pohon-pohon dari emas. Rasul melihat disurga apa yang mata belum pernah
melihat, telingan belum pernah mendengar dan tidak terlintas dihati manusia
semuanya masih kosong dan disediakan hanya pemiliknya dari kekasih Allah ini
yang dapat melihatnya. Semua itu membuat Rasul kagum untuk seperti inilah
mestinya manusia beramal. Kemudian Rasul diperlihatkan neraka sehingga rasul
dapat melihat belenggu-belenggu dan rantai-rantainya selanjutnya Rasulullah
turun ke bumi dan kembali ke masjidil haram menjelang subuh.
Tujuan dari Rasulullah SAW di perjalankan saat Isra’ Mi’raj
ini tidak lain adalah untuk menerima perintah sholat, seperti termaktub dalam
QS. Al-Isra’ ayat 78
“Dirikanlah salat dari
sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula salat)
subuh. Sesungguhnya salat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).”
Masya
Allah, betapa agungnya perintah Shalat ini, karena Allah SWT langsung
menyampaikan perintah tersebut langsung kepada Rasulullah, tanpa adanya
perantara (malaikat jibril) seperti perintah atau wahyu-wahyu yang lain
Read More »
Label:
Kisah Hikmah
Sabtu, 01 Juni 2013
Dosen Liberal, (Ambil Pelajaran !!!)
Dosen: "Saya bingung. Banyak Umat Islam di seluruh dunia lebay. Kenapa harus protes dan demo besar-besaran cuma karena tentara amerika menginjak, meludahi dan mengencingi Al-Quran? Wong yang dibakar kan cuma kertas, cuma media tempat Quran ditulis saja kok. Yang Qurannya kan ada di Lauh Mahfuzh. Dasar ndeso. Saya kira banyak muslim yang mesti dicerdaskan."
Meskipun pongah, namun banyak mahasiswa yang setuju dengan pendapat dosen liberal ini. Memang Qur'an kan hakikatnya ada di Lauh Mahfuz.
mahasiswa kreatif mendekati dosen kemudian mengambil diktat kuliah si dosen, dan membaca sedikit sambil sesekali menatap tajam si dosen.
Kelas makin hening, para mahasiswa tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Mahasiswa: "Wah, saya sangat terkesan dengan hasil analisa bapak yg ada disini."ujarnya- sambil membolak balik halaman diktat tersebut.
"Hhuuhhh...."semua orang di kelas itu lega karena mengira ada yang tidak beres.
Namun Tiba-tiba sang mahasiswa meludahi, menghempaskan dan kemudian menginjak-injak- diktat dosen tersebut. Kelas menjadi heboh. Semua orang kaget, tak terkecuali si dosen liberal.
Dosen: "kamu?! Berani melecehkan saya?! Kamu tahu apa yang kamu lakukan?! Kamu menghina karya ilmiah hasil pemikiran saya?! Lancang kamu ya?!"
Si dosen melayangkan tangannya ke arah kepala sang mahasiswa kreatif, namun ia dengan cekatan menangkis dan menangkap tangan si dosen.
Mahasiswa: "Marah ya pak? Saya kan cuma nginjak kertas pak. Ilmu dan pikiran yang bapak punya kan ada di kepala bapak. Ngapain bapak marah kalau yang saya injak cuma media buku kok. Wong yang saya injak bukan kepala bapak. Kayaknya bapak yang perlu dicerdaskan ya??"
Si dosen merapikan pakaiannya dan segera meninggalkan kelas dengan perasaan malu yang amat sangat. Cepeek deeh..!!
"Itulah salah satu hukuman langsung dri Allah Ta'ala bagi siapa saja yang ingin mempermainkan atau mencaci maki Agama-Nya."
Pelajaran yang sangat berharga dari kisah di atas:
Tanamkanlah Aqidah yang benar kepada buah hati anda, Aqidah yang bersumber dari mata air yang Murni, yang tidak tercampur dengan kotoran Syirik, Bid'ah dan Khurafat, Yaitu Al Qur'an dan Sunnah Nabi -Shallallahu Alaihi wa Sallam- sesuai dengan pemahaman para As Salaf As Shaleh (Sahabat, Tabi'in, dan Tabi'ut Tabi'in serta para ulama yang meniti jalan mereka).
Dengan Aqidah dan keyakina yang benar, Allah Ta'ala akan menjaga seseorang dari penyimpangan, baik lahir dan batin.
Semoga Allah Ta'ala menunjukkan kepada kita kebenaran adalah kebenaran, serta memudahkan kita untuk mengikutinya, dan memperlihatkan kepada kita yang batil itu adalah sebuah kebatilan, serta memudahkan kita untuk menjauhinya, karena betapa banyak org yang tau itu kebenaran, namun Allah Ta'ala tdk mmberikannya hidayah utk mengikutinya, dan betapa banyak
org yg tau bahwa itu kebathilan, namun dia tidak diberikan hidayah untuk menjauhinya.
Mintalah kepada Allah Ta'ala hidayah Taufiq, agar dimudahkan untuk istiqamah di atas kebenaran.
Read More »
Label:
Kisah Hikmah
Rabu, 22 Mei 2013
Uwais Al Qarni - majhulun fil ardh masyhurun fissama'-
--tak dikenal di bumi namun mashur di langit--
Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru,
rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya
kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada tempat sujudnya,
tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli membaca Al-Qur'an dan menangis, pakaiannya hanya dua
helai sudah kusut yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk
selendangan, tiada orang yang menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan
tetapi sangat terkenal di langit.
Pemuda
dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, tak punya sanak famili kecuali hanya ibunya yang telah tua
renta dan lumpuh. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi
kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang
diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama Sang ibu,
bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin
dan serba kekurangan seperti keadaannya.
Kesibukannya
sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh dan
buta, tidak memengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam
harinya.
Uwais
al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar
seruan Nabi Muhammad SAW. yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah
Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya. Islam mendidik setiap
pemeluknya agar berakhlak luhur.
Peraturan-peraturan
yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati Uwais, sehingga setelah seruan
Islam datang di negeri Yaman, ia segera memeluknya, karena selama ini hati
Uwais selalu merindukan datangnya kebenaran. Banyak tetangganya yang telah
memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi
Muhammad SAW secara langsung. Sekembalinya di Yaman, mereka memperbarui rumah
tangga mereka dengan cara kehidupan Islam.
Alangkah
sedihnya hati Uwais setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah.
Mereka itu telah "bertamu dan bertemu" dengan kekasih Allah penghulu
para Nabi, sedang ia sendiri belum. Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan
kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah daya ia tak
punya bekal yang cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah sang
ibu yang jika ia pergi, tak ada yang merawatnya.
Di
ceritakan ketika terjadi Pertempuran
Uhud Rasulullah SAW
mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya.
Kabar ini akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu
hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada beliau
SAW, sekalipun ia belum pernah melihatnya. Hari berganti dan musim berlalu, dan
kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam
lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, kapankah ia dapat
menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat?
Tapi,
bukankah ia mempunyai ibu yang sangat membutuhkan perawatannya dan tak tega
ditingalkan sendiri, hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk
berjumpa. Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi
hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menziarahi Nabi
SAW di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar
permohonan anaknya.
Beliau
memaklumi perasaan Uwais, dan berkata, "Pergilah wahai anakku! temuilah
Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali
pulang". Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa
menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada
tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi.
Sesudah
berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju Madinah yang
berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman. Medan yang begitu ganas
dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang
luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin
di malam hari, semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya
paras baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya. Tibalah Uwais al-Qarni di
kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu rumah itu
sambil mengucapkan salam. Keluarlah Sayyidah Fathimah binti Muhammad SAW,
sambil menjawab salam Uwais.
Segera
saja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW
tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang
perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada di
rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi SAW dari
medan perang.
Tapi,
kapankah beliau pulang ? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya
yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman,"
Engkau harus lekas pulang".
Karena
ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan
kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan
terpaksa mohon pamit kepada Sayyidah Fathimah a.s. untuk segera pulang ke
negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang
dengan perasaan haru.
Sepulangnya
dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang
mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni adalah anak yang
taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit).
Mendengar perkataan baginda Rasulullah SAW, Sayyidatina Fathimah a.s. dan para
sahabatnya tertegun. Menurut informasi Sayyidah Fathimah a.s., memang benar ada
yang mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah
tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.
Rasulullah
SAW bersabda : "Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais
al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak
tangannya." Sesudah itu beliau SAW, memandang kepada Imam Ali bin Abi
Thalib a.s. dan Umar bin Khattab dan bersabda, "Suatu ketika, apabila
kalian bertemu dengan dia, mintalah do'a dan istighfarnya, dia adalah penghuni
langit dan bukan penghuni bumi".
Tahun
terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga kekhalifahan Abu Bakar telah diestafetkan kepada Khalifah Umar bin Khattab. Suatu ketika,
khalifah Umar teringat akan sabda Nabi SAW. tentang Uwais al-Qarni, sang
penghuni langit. Ia segera mengingatkan kepada Imam Ali a.s.
untuk mencarinya bersama. Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman,
beliau berdua selalu menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama
mereka.
Di
antara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya yang
terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua. Rombongan kafilah dari
Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang
dagangan mereka.
Suatu
ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah.
Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera khalifah Umar bin
Khattab dan Imam Ali a.s. mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut
bersama mereka. Rombongan itu mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang
menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar
jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qorni.
Sesampainya
di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar bin Khattab dan Imam Ali a.s.
memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan salat. Setelah
mengakhiri salatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil
bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais,
untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada di telapak tangan Uwais,
sebagaimana pernah disabdakan oleh Nabi SAW. Memang benar! Dia penghuni langit.
Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut, siapakah nama saudara?
"Abdullah", jawab Uwais.
Mendengar
jawaban itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan, "Kami juga Abdullah,
yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?" Uwais kemudian
berkata, "Nama saya Uwais al-Qorni".
Dalam
pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah
sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu.
Akhirnya, Khalifah Umar dan Imam Ali a.s. memohon agar Uwais berkenan mendo'akan
untuk mereka.
Uwais
enggan dan dia berkata kepada khalifah, "Sayalah yang harus meminta do'a
kepada kalian". Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata, "Kami
datang ke sini untuk mohon do'a dan istighfar dari anda".
Karena
desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya,
berdo'a dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar berjanji untuk
menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya.
Segera saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata, "Hamba mohon supaya
hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba
yang fakir ini tidak diketahui orang lagi".
Setelah
kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar beritanya. Tapi ada
seorang lelaki pernah bertemu dan ditolong oleh Uwais, waktu itu kami sedang
berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa
disangka-sangka angin topan berhembus dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak
menghantam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan
kapal semakin berat. Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang
mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami
memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan salat di atas air.
Betapa
terkejutnya kami melihat kejadian itu. "Wahai waliyullah, tolonglah
kami!" tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu kami berseru lagi, "Demi
Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!" Lelaki itu
menoleh kepada kami dan berkata,
"Apa
yang terjadi ?"
"Tidakkah
engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan dihantam ombak?" tanya kami.
"Dekatkanlah
diri kalian pada Allah!" katanya.
"Kami
telah melakukannya."
"Keluarlah
kalian dari kapal dengan membaca bismillahirrohmaani rrohiim!"
Kami
pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu
jumlah kami lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam,
sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut.
Lalu
orang itu berkata pada kami ,"Tak apalah harta kalian menjadi korban
asalkan kalian semua selamat". "Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah
nama Tuan ? "Tanya kami.
"Uwais
al-Qorni". Jawabnya dengan singkat.
Kemudian
kami berkata lagi kepadanya, "Sesungguhnya harta yang ada dikapal tersebut
adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir."
"Jika
Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada
orang-orang fakir di Madinah?" tanyanya.
"Ya,
"jawab kami. Orang itu pun melaksanakan salat dua rakaat di atas air, lalu
berdo'a. Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke
permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di
Madinah, kami membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di
Madinah, tidak satupun yang tertinggal.
Beberapa
waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah pulang ke Rahmatullah.
Anehnya,
pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk
memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana
sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya.
Demikian
pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada
orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju
ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.
Dan
Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, "ketika aku ikut
mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku
bermaksud untuk kembali ke tempat penguburannya guna memberi tanda pada
kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh
Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais
al-Qorni pada masa pemerintahan Umar bin Khattab)
Meninggalnya
Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi
hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal
berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah
seorang fakir yang tak dihiraukan orang.
Sejak
ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ
selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.
Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, "Siapakah
sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qorni? Bukankah Uwais yang kita kenal,
hanyalah seorang fakir yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah
sebagai penggembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah
menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak
pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya
mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk mengurus
jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa
"Uwais al-Qorni" ternyata ia tak terkenal di bumi tapi terkenal di
langit.
oleh:wikipedia
Read More »
Label:
Kisah Hikmah
Sabtu, 18 Mei 2013
Tangisan Rasulullah Menggoncangkan Arasy
Dikisahkan, bahwasanya di waktu Rasulullah
s.a.w. sedang asyik bertawaf di Ka'bah,
beliau mendengar seseorang di hadapannya
bertawaf, sambil berzikir: "Ya Karim! Ya
Karim!"
Rasulullah s.a.w. menirunya membaca "Ya Karim!
Ya Karim!" Orang itu Ialu
berhenti di salah satu sudut Ka'bah, dan
berzikir lagi: "Ya Karim! Ya Karim!" Rasulullah
s.a.w. yang berada di belakangnya mengikut
zikirnya "Ya Karim! Ya Karim!" Merasa seperti
diolok-olokkan, orang itu menoleh ke belakang
dan terlihat olehnya seorang laki-laki yang
gagah, lagi tampan yang belum pernah
dikenalinya. Orang itu Ialu berkata:
"Wahai orang tampan! Apakah engkau memang
sengaja memperolok-olokkanku,
karena aku ini adalah orang Arab badwi? Kalaulah
bukan kerana ketampananmu dan
kegagahanmu, pasti engkau akan aku laporkan
kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah."
Mendengar kata-kata orang badwi itu, Rasulullah
s.a.w. tersenyum, lalu bertanya:
"Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai
orang Arab?" "Belum," jawab orang itu. "Jadi
bagaimana kau beriman kepadanya?"
"Saya percaya dengan mantap atas
kenabiannya, sekalipun saya belum pernah
melihatnya, dan membenarkan perutusannya,
sekalipun saya belum pernah bertemu
dengannya," kata orang Arab badwi itu pula.
Rasulullah s.a.w. pun berkata kepadanya:
"Wahai orang Arab! Ketahuilah aku inilah
Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di
akhirat!" Melihat Nabi di hadapannya, dia
tercengang, seperti tidak percaya kepada
dirinya.
"Tuan ini Nabi Muhammad?!"
"Ya" jawab Nabi s.a.w. Dia segera tunduk untuk
mencium kedua kaki Rasulullah s.a.w. Melihat hal
itu, Rasulullah s.a.w. menarik tubuh orang
Arab itu, seraya berkata kepadanya:
"Wahal orang Arab! janganlah berbuat serupa
itu. Perbuatan seperti itu biasanya
dilakukan oleh hamba sahaya kepada juragannya,
Ketahuilah, Allah mengutusku bukan untuk
menjadi seorang yang takabbur yang meminta
dihormati, atau diagungkan, tetapi demi
membawa berita.
Ketika itulah, Malaikat Jibril a.s. turun
membawa berita dari langit dia berkata: "Ya
Muhammad! Tuhan As-Salam mengucapkan salam
kepadamu dan bersabda: "Katakanlah
kepada orang Arab itu, agar dia tidak terpesona
dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahawa
Allah akan menghisabnya di hari Mahsyar nanti,
akan menimbang semua amalannya, baik
yang kecil maupun yang besar!" Setelah
menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi.
Maka orang Arab itu pula berkata:
"Demi keagungan serta kemuliaan Tuhan, jika
Tuhan akan membuat perhitungan atas
amalan hamba, maka hamba pun akan membuat
perhitungan dengannya!" kata orang
Arab badwi itu. "Apakah yang akan engkau
perhitungkan dengan Tuhan?" Rasulullah
bertanya kepadanya. 'Jika Tuhan akan
memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka
5
hamba akan memperhitungkan betapa kebesaran
maghfirahnya,' jawab orang itu.
'Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba,
maka hamba akan
memperhitungkan betapa keluasan pengampunan-Nya.
Jika Dia memperhitungkan
kekikiran hamba, maka hamba akan memperhitungkan
pula betapa
kedermawanannya!'
Mendengar ucapan orang Arab badwi itu, maka
Rasulullah s.a.w. pun menangis
mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang
Arab badwi itu, air mata beliau meleleh
membasahi Janggutnya. Lantaran itu Malaikat
Jibril turun lagi seraya berkata:
"Ya Muhammad! Tuhan As-Salam menyampaikan
salam kepadamu, dan bersabda:
Berhentilah engkau dari menangis! Sesungguhnya
karena tangismu, penjaga Arasy lupa dari
bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga la
bergoncang. Katakan kepada temanmu itu, bahwa
Allah tidak akan menghisab dirinya, juga tidak
akan memperhitungkan kemaksiatannya.
Allah sudah rnengampuni semua kesalahannya dan
la akan menjadi temanmu di syurga
nanti!" Betapa sukanya orang Arab badwi
itu, mendengar berita tersebut. la Ialu menangis
karena tidak berdaya menahan keharuan dirinya.
Source : Himpunan kisah-kisah teladan
Shared By Kisah Penuh Hikmah
Read More »
Label:
Kisah Hikmah
DIALOG RASULULLAH DAN IBLIS
Suatu ketika Allah SWT memerintahkan seorang
Malaikat menemui Iblis agar menghadap Baginda Rasul saw untuk memberitahu
segala rahasianya, baik yang disuka maupun yang
dibencinya. Hal ini dimaksudkan untuk meninggikan derajat Nabi Muhammad saw dan
juga sebagai peringatan dan perisai umat manusia.
Kemudian Malaikat itupun mendatangi Iblis dan
berkata : “Hai Iblis! Engkau diperintah Allah untuk menghadap Rasulullah saw.
Bukalah semua rahasiamu dan jawablah setiap pertanyaan Rasulullah dengan jujur.
Jika engkau berdusta walau satu perkataanpun, niscaya akan terputus semua
anggota badanmu, uratmu serta disiksa dengan azab yang amat pedih”.
Mendengar ucapan Malaikat yang dahsyat itu, Iblis
sangat ketakutan, maka segera ia menghadap Rasulullah saw dengan menyamar
sebagai orang tua yang buta sebelah matanya dan berjanggut putih 10 helai yang
panjangnya seperti ekor lembu.
Iblis pun memberi salam sampai 3 (tiga) kali salam,
Rasulullah saw tidak juga menjawabnya, maka Iblis berkata : “Ya Rasullullah!
Mengapa engkau tidak menjawab salamku? Bukankah salam itu sangat mulia di sisi
Allah?” Maka jawab Nabi dengan marah : “Hai musuh Allah! Kepadaku engkau
menunjukkan kebaikanmu? Jangan kau coba menipuku sebagaimana kau tipu Nabi Adam
as sehingga beliau keluar dari syurga, kau hasut Qabil sehingga ia tega
membunuh Habil yang masih saudaranya sendiri, ketika sedang sujud dalam
sembahyang kau tiup Nabi Ayub as dengan asap beracun sehingga beliau sengsara
untuk beberapa lama, kisah Nabi Daud as dengan perempuan Urya, Nabi Sulaiman
meninggalkan kerajaannya karena engkau menyamar sebagai isterinya dan begitu
juga beberapa Anbiya dan pendeta yang telah menanggung sengsara akibat
hasutanmu.
Hai Iblis! Sebenarnya salam itu sangat mulia di
sisi Allah azza wa jalla, tapi aku diharamkan Allah menjawab salammu. Aku
mengenalmu dengan baik wahai Iblis, Raja segala Iblis. Apa tujuanmu
menemuiku?”.
Jawab Iblis : “Ya Nabi Allah! Janganlah engkau
marah. Engkau dapat mengenaliku karena engkau adalah Khatamul Anbiya. Aku
datang atas perintah Allah untuk memberitahu segala tipu dayaku terhadap umatmu
dari zaman Nabi Adam as hingga akhir zaman nanti. Ya Nabi Allah! Setiap apa
yang engkau tanya, aku bersedia menerangkan satu persatu dengan sebenarnya, aku
tidak berani menyembunyikannya”.
Kemudian Iblispun bersumpah menyebut nama Allah dan
berkata : “Ya Rasulullah! Sekiranya aku berdusta barang sepatahpun niscaya
hancur leburlah badanku menjadi abu”.
Ketika mendengar sumpah Iblis itu, Nabipun
tersenyum dan berkata dalam hatinya, inilah kesempatanku untuk menyiasati
segala perbuatannya agar didengar seluruh sahabat yang ada di majlis ini dan
menjadi perisai seluruh umatku.
Pertanyaan Nabi (1) :
“Hai Iblis! Siapakah musuh besarmu?”
Jawab Iblis : “Ya Nabi Allah! Engkaulah musuhku
yang paling besar di antara musuh-musuhku di muka bumi ini”.
Kemudian Nabipun memandang muka Iblis dan Iblispun
gemetar karena ketakutan. Sambung Iblis : “Ya Khatamul Anbiya! Aku dapat
merubah diriku seperti manusia, binatang dan lain-lain hingga rupa dan suarapun
tidak berbeda, kecuali dirimu saja yang tidak dapat aku tiru karena dicegah
oleh Allah. Andaikan aku menyerupai dirimu, maka terbakarlah diriku menjadi
abu.
Aku cabut iktikad / niat anak Adam supaya menjadi
kafir karena engkau berusaha memberi nasihat dan pengajaran supaya mereka kuat
untuk memeluk agama Islam, begitu juga aku berusaha menarik mereka kepada
kekafiran, murtad atau munafik. Aku akan menarik seluruh umat Islam dari jalan
yang benar menuju jalan yang sesat supaya masuk ke dalam neraka dan kekal di
dalamnya bersamaku”.
Pertanyaan Nabi (2) :
“Hai Iblis! Apa yang kau perbuat terhadap makhluk
Allah?”
Jawab Iblis : “Adalah satu kemajuan bagi perempuan
yang merenggangkan kedua pahanya kepada lelaki yang bukan suaminya, setengahnya
hingga mengeluarkan benih yang salah sifatnya. Aku goda semua manusia supaya
meninggalkan sholat, berbuai dengan makanan dan minuman, berbuat durhaka, aku
lalaikan dengan harta benda, emas, perak dan permata, rumahnya, tanahnya,
ladangnya supaya hasilnya dibelanjakan ke jalan yang haram.
Demikian juga ketika pesta di mana lelaki dan
perempuan bercampur. Di sana aku lepaskan godaan yang besar supaya mereka lupa
peraturan dan akhirnya minum arak. Apabila terminum arak itu, maka hilanglah
akal, fikiran dan malunya. Lalu aku ulurkan tali cinta dan terbukalah beberapa
pintu maksiat yang besar, datang perasaan hasad dengki hingga perbuatan zina.
Apabila terjadi kasih antara mereka, terpaksalah mereka mencari uang hingga
menjadi penipu, peminjam dan pencuri.
Apabila mereka sadar akan kesalahan mereka lalu
hendak bertaubat dan berbuat amal ibadah, akan aku rayu supaya mereka
membatalkannya. Semakin keras aku goda supaya mereka berbuat maksiat dan
mengambil isteri orang. Jika hatinya terkena godaanku, datanglah rasa ria’,
takabur, iri, sombong dan melengahkan amalnya. Jika lidahnya yang tergoda, maka
mereka akan gemar berdusta, mencela dan mengumpat. Demikianlah aku goda mereka
setiap saat”.
Pertanyaan Nabi (3) :
“Hai Iblis! Mengapa engkau bersusah payah melakukan
pekerjaan yang tidak mendatangkan faedah bahkan menambah laknat yang besar dan
siksa yang besar di neraka yang paling bawah? Hai yang dikutuk Allah! Siapa
yang menjadikanmu? Siapa yang melanjutkan usiamu? Siapa yang menerangkan
matamu? Siapa yang memberi pendengaranmu? Siapa yang memberi kekuatan anggota
badanmu?
Jawab Iblis : “Semuanya itu adalah anugerah dari
Allah Yang Maha Besar. Tetapi hawa nafsu dan takabur membuatku menjadi jahat
sebesar-besarnya. Engkau lebih tahu bahwa diriku telah beribu-ribu tahun
menjadi Ketua seluruh Malaikat dan pangkatku telah dinaikkan dari satu langit
ke langit yang lebih tinggi. Kemudian aku tinggal di dunia ini beribadah
bersama para Malaikat beberapa waktu lamanya.
Tiba-tiba datang firman Allah SWT hendak menjadikan
seorang Khalifah di dunia ini, maka akupun membantah. Lalu Allah menciptakan
manusia yang pertama (Nabi Adam as) dan seluruh Malaikat diperintah supaya
memberi hormat sujud kepada lelaki itu, hanya aku saja yang ingkar. Oleh karena
itu, Allah murka kepadaku dan wajahku yang tampan rupawan dan bercahaya itu
berubah menjadi keji dan menakutkan. Aku merasa sakit hati. Kemudian Allah
menjadikan Adam raja di syurga dan dikaruniakan seorang permaisuri (Siti Hawa)
yang memerintah seluruh bidadari. Aku bertambah dengki dan dendam kepada
mereka.
Akhirnya aku berhasil menipu mereka melalui Siti
Hawa yang menyuruh Adam memakan buah khuldi, lalu keduanya diusir dari syurga
ke dunia. Keduanya berpisah beberapa tahun dan kemudian dipertemukan Allah (di
Padang Arafah), hingga mereka mendapat beberapa orang anak. Kemudian kami hasut
anak lelakinya Qabil supaya membunuh saudaranya Habil. Itupun aku masih belum
puas dan berbagai tipu daya aku lakukan hingga hari kiamat kelak.
Sebelum engkau lahir ke dunia, aku beserta bala
tentaraku dengan mudah dapat naik ke langit untuk mencuri segala rahasia,
tulisan yang menyuruh manusia berbuat ibadah dan balasan pahala serta syurga
mereka. Kemudian aku turun ke dunia dan memberitahu manusia yang lain tentang
apa yang sebenarnya aku dapatkan dengan berbagai tipu daya hingga tersesat
dengan berbagai kitab bid’ah dan kehancuran.
Tetapi ketika engkau lahir ke dunia ini, maka aku
tidak diijinkan oleh Allah untuk naik ke langit dan mencuri rahasia karena
banyak Malaikat yang menjaga di setiap lapisan pintu langit. Jika aku memaksa
untuk naik, maka Malaikat akan melontarkan anak panah dari api yang menyala.
Sudah banyak bala tentaraku yang terkena lontaran Malaikat itu dan semuanya
terbakar menjadi abu, maka semakin beratlah pekerjaanku dan bala tentaraku
untuk menjalankan tugas menghasut manusia”.
Pertanyaan Nabi (4) :
Rasullullah bertanya “Hai Iblis! Apa yang pertama
kali kau tipu dari manusia?”
Jawab Iblis : “Pertama kali aku palingkan iktikad /
niatnya, imannya kepada kafir dan juga dari segi perbuatan, perkataan, kelakuan
atau hatinya. Jika tidak berhasil juga, akan aku tarik dengan cara mengurangi
pahala. Lama-kelamaan mereka akan terjerumus mengikuti kemauanku”.
Pertanyaan Nabi (5) :
“Hai Iblis! Jika umatku sholat karena Allah, apa
yang terjadi padamu?”
Jawab Iblis : “Sungguh penderitaan yang sangat
besar. Gemetarlah badanku dan lemah tulang sendiku, maka aku kerahkan
berpuluh-puluh iblis datang menggoda manusia pada setiap anggota badannya.
Beberapa iblis datang pada setiap anggota badannya
supaya malas sholat, was-was, lupa bilangan raka’atnya, bimbang pada pekerjaan
dunia yang ditinggalkannya, merasa terburu-buru supaya cepat selesai sholatnya,
hilang khusyuknya, matanya senantiasa melirik ke kanan dan ke kiri, telinganya
senantiasa mendengar percakapan orang dan bunyi-bunyi yang lain.
Beberapa iblis yang lain duduk di belakang badan
orang yang sembahyang itu supaya tidak kuat sujud berlama-lama, penat waktu
duduk tahiyat dan dalam hatinya selalu merasa terburu-buru supaya cepat selesai
sholatnya, itu semua membuat berkurangnya pahala. Jika para iblis tidak dapat
menggoda manusia itu, maka aku sendiri akan menghukum mereka dengan hukuman
yang berat”.
Pertanyaan Nabi (6) :
“Jika umatku membaca Al-Qur’an karena Allah, apa
yang terjadi padamu?”
Jawab Iblis : “Jika mereka membaca Al-Qur’an karena
Allah, maka terbakarlah tubuhku, putuslah seluruh uratku lalu aku lari dan
menjauh darinya”.
Pertanyaan Nabi (7) :
“Jika umatku mengerjakan haji karena Allah,
bagaimana perasaanmu?”
Jawab Iblis : “Binasalah diriku, gugurlah daging
dan tulangku karena mereka telah mencukupkan rukun Islamnya”.
Pertanyaan Nabi (8) :
“Jika umatku berpuasa karena Allah, bagaimana
keadaanmu?”
Jawab Iblis : “Ya Rasulullah! Inilah bencana yang
paling besar bahayanya buatku. Apabila masuk awal bulan Ramadhan, maka
memancarlah cahaya Arasy dan Kursi, bahkan seluruh Malaikat menyambut dengan
suka cita. Bagi orang yang berpuasa, Allah akan mengampunkan segala dosa yang
lalu dan digantikan dengan pahala yang amat besar serta tidak dicatat dosanya
selama dia berpuasa. Yang menghancurkan hatiku ialah segala isi langit dan
bumi, yakni Malaikat, bulan, bintang, burung dan ikan-ikan semuanya siang malam
memohonkan ampunan bagi orang yang berpuasa. Satu lagi kemudian orang berpuasa
ialah dimerdekakan pada setiap masa dari azab neraka. Bahkan semua pintu neraka
ditutup manakala semua pintu syurga dibuka seluas-luasnya dan dihembuskan angin
dari bawah Arasy yang bernama Angin Syirah yang amat lembut ke dalam syurga.
Pada hari umatmu mulai berpuasa, dengan perintah Allah datanglah sekalian
Malaikat dengan garangnya menangkapku dan tentaraku, jin, syaitan dan ifrit
lalu dipasung kaki dan tangan dengan besi panas dan dirantai serta dimasukkan
ke bawah bumi yang amat dalam. Di sana pula beberapa azab yang lain telah
menunggu kami. Setelah habis umatmu berpuasa, barulah aku dilepaskan dengan
perintah agar tidak mengganggu umatmu. Umatmu sendiri telah merasa ketenangan
berpuasa sebagaimana mereka bekerja dan bersahur seorang diri di tengah malam
tanpa rasa takut dibandingkan bulan biasanya”.
Pertanyaan Nabi (9) :
“Hai Iblis! Bagaimana seluruh sahabatku menurutmu?”
Jawab Iblis : “Seluruh sahabatmu termasuk musuh
besarku. Tiada upayaku melawannya dan tiada satupun tipu daya yang dapat masuk
kepada mereka. Karena engkau sendiri telah berkata : “Seluruh sahabatku adalah
seperti bintang di langit, jika kamu mengikuti mereka, maka kamu akan mendapat
petunjuk”.
Sayyidina Abu Bakar al-Siddiq sebelum bersamamu,
aku tidak dapat mendekatinya, apalagi setelah berdampingan denganmu. Dia begitu
percaya atas kebenaranmu hingga dia menjadi wazirul a’zam. Bahkan engkau
sendiri telah mengatakan jika ditimbang seluruh isi dunia ini dengan amal
kebajikan Abu Bakar, maka akan lebih berat amal kebajikan Abu Bakar. Lagipula
dia telah menjadi mertuamu karena engkau menikah dengan anaknya, Sayyidatina
Aisyah yang juga banyak menghafal Hadits-haditsmu.
Adapun Sayyidina Umar bin Khatab, aku tidak berani
memandang wajahnya karena dia sangat keras menjalankan hukum syariat Islam
dengan seksama. Jika aku pandang wajahnya, maka gemetarlah seluruh tulang
sendiku karena sangat takut. Hal ini karena imannya sangat kuat apalagi engkau
telah mengatakan : “Jikalau ada Nabi sesudah aku, maka Umar boleh menggantikan
aku”, karena dia adalah orang harapanmu serta pandai membedakan antara kafir
dan Islam hingga digelar ‘Al-Faruq’.
Sayyidina Usman bin Affan, aku tidak bisa bertemu
karena lidahnya senantiasa membaca Al-Qur’an. Dia penghulu orang sabar,
penghulu orang mati syahid dan menjadi menantumu sebanyak 2 (dua) kali. Karena
taatnya, banyak Malaikat datang menghampiri dan memberi hormat kepadanya karena
Malaikat itu sangat malu kepadanya hingga engkau mengatakan : “Barangsiapa
menulis Bismillaahirrahmaanirrahiim pada kitab atau kertas-kertas dengan tinta
merah, niscaya mendapat pahala seperti pahala Usman mati syahid”.
Sayyidina Ali bin Abi Thalibpun aku sangat takut
karena hebatnya dan gagahnya dia di medan perang, tetapi sangat sopan santun,
alim orangnya. Jika iblis, syaitan dan jin memandang beliau, maka terbakarlah
kedua mata mereka karena dia sangat kuat beribadah dan beliau adalah golongan
orang pertama yang memeluk agama Islam serta tidak pernak menundukkan kepalanya
kepada berhala. Bergelar ‘Ali Karamullahu Wajhahu” dimuliakan Allah akan
wajahnya dan juga ‘Harimau Allah’ dan engkau sendiri berkata : “Akulah negeri
segala ilmu dan Ali itu pintunya”. Lagipula dia menjadi menantumu, aku semakin
ngeri kepadanya”.
Pertanyaan Nabi (10) :
“Bagaimana tipu dayamu kepada umatku?”
Jawab Iblis : “Umatmu itu ada 3 (tiga) macam. Yang
pertama, seperti hujan dari langit yang menghidupkan segala tumbuhan yaitu
ulama yang memberi nasihat kepada manusia supaya mengerjakan perintah Allah dan
meninggalkan laranganNya seperti kata Jibril as : “Ulama itu adalah pelita
dunia dan pelita akhirat”. Yang kedua, umat tuan seperti tanah yaitu orang yang
sabar, syukur dan ridha dengan karunia Allah. Berbuat amal saleh, tawakal dan
kebajikan. Yang ketiga, umatmu seperti Fir’aun, terlampau tamak dengan harta
dunia dan dihilangkan amal akhirat, maka akupun bersuka cita lalu masuk ke
dalam badannya, aku putarkan hatinya ke lautan durhaka dan aku ajak kemana saja
mengikuti kemauanku. Jadi dia selalu bimbang kepada dunia dan tidak mau
menuntut ilmu, tidak pernah beramal saleh, tidak mau mengeluarkan zakat dan
malas beribadah.
Lalu aku goda agar manusia minta kekayaan lebih
dulu dan apabila diizinkan Allah dia menjadi kaya, maka aku rayu supaya lupa
beramal, tidak membayar zakat seperti Qarun yang tenggelam dengan istana
mahligainya. Bila umatmu terkena penyakit tidak sabar dan tamak, dia selalu
bimbang akan hartanya dan berangan-angan hendak merebut kemewahan dunia, benci
dan menghina kepada yang miskin, membelanjakan hartanya untuk kemaksiatan”.
Pertanyaan Nabi (11) :
“Siapa yang serupa denganmu?”
Jawab Iblis : “Orang yang meringankan syariatmu dan
membenci orang yang belajar agama Islam”.
Pertanyaan Nabi (12) :
“Siapa yang membuat mukamu bercahaya?”
Jawab Iblis : “Orang yang berdosa, bersumpah
bohong, saksi palsu dan suka ingkar janji”.
Pertanyaan Nabi (13) :
“Apa yang kau rahasiakan dari umatku?”
Jawab Iblis : “Jika seorang Muslim buang air besar
dan tidak membaca do’a terlebih dahulu, maka aku gosok-gosokkan najisnya
sendiri ke badannya tanpa dia sadari”.
Pertanyaan Nabi (14) :
“Jika umatku bersatu dengan isterinya, apa yang kau
lakukan?”
Jawab Iblis : “Jika umatmu hendak bersetubuh dengan
isterinya dan membaca do’a pelindung syaitan, maka aku lari dari mereka. Jika
tidak, aku akan bersetubuh dahulu dengan isterinya dan bercampurlah benihku
dengan benih isterinya. Jika menjadi anak, maka anak itu akan gemar berbuat
maksiat, malas pada kebaikan, durhaka. Ini semua karena kealpaan ibu bapaknya
sendiri. Begitu juga jika mereka makan tanpa membaca Bismillah, aku santap
makanannya lebih dulu daripadanya. Walaupun mereka makan, tidaklah mereka
merasa kenyang”.
Pertanyaan Nabi (15) :
“Apa yang dapat menolak tipu dayamu?”
Jawab Iblis : “Jika berbuat dosa, maka
cepat-cepatlah bertaubat kepada Allah, menangis menyesal akan perbuatannya.
Apabila marah, segeralah mengambil air wudhu’, maka padamlah marahnya”.
Pertanyaan Nabi (16) :
“Siapakah orang yang paling engkau sukai?”
Jawab Iblis : “Lelaki dan perempuan yang tidak
mencukur atau mencabut bulu ketiak atau bulu ari-ari (bulu kemaluan) selama 40
hari. Di situlah aku mengecilkan diri, bersarang, bergantung, berbuai seperti
pijat pada bulu itu”.
Pertanyaan Nabi (17) :
“Hai Iblis! Siapakah saudaramu?”
Jawab Iblis : “Orang yang tidur meniarap / telungkup,
orang yang matanya terbuka di waktu Subuh tetapi menyambung tidur lagi. Lalu
aku lenakan dia hingga terbit fajar. Demikian juga pada waktu Dzuhur, Asar,
Maghrib dan Isya’, aku beratkan hatinya untuk sholat”.
Pertanyaan Nabi (18) :
“Apa yang dapat membinasakan dirimu?”
Jawab Iblis : “Orang yang banyak menyebut nama
Allah, bersedekah dengan tidak diketahui orang, banyak bertaubat, banyak
tadarus Al-Qur’an dan sholat tengah malam”.
Pertanyaan Nabi (19) :
“Hai Iblis! ?” Apa yang dapat memecahkan matamu?”
Jawab Iblis : “Orang yang duduk di dalam masjid dan
beri’tikaf di dalamnya”.
Pertanyaan Nabi (20) :
“Apa lagi yang dapat memecahkan matamu?”
Jawab Iblis : “Orang yang taat kepada kedua ibu
bapaknya, mendengar kata mereka, membantu makan, pakaian mereka selama mereka
hidup, karena engkau telah bersabda : Syurga itu di bawah tapak kaki ibu”.
(Dikutip dari : KH. Abdullah Gymnastiar, Muhasabah
Kiat Sukses Introspeksi Diri, Penerbit Difa Press, September 2006)
Read More »
Label:
Kisah Hikmah
Langganan:
Postingan (Atom)

